Tim terpadu BPBD Kabupaten Pulang Pisau berjibaku memadamkan api. (FOTO TRANS HAPAKAT)

TRANS HAPAKAT РKepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah Osa Maliki (23/9/2023) mengungkapkan, penyebab kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Desa Tumbang Nusa Kecamatan Jabiren Raya sejak pada Kamis 21 September 2023 dipicu oleh beberapa faktor yang  saat ini terus dalam proses pemadaman.

Berdasarkan informasi dari masyarakat, kata Osa Maliki, penyebab terjadinya Karhutla salah satunya diduga karena ulah manusia tidak bertanggungjawab, namun isu ini bisa diyakinkan karena tidak akan ada api jika tidak ada pemicunya.

Lokasi kawasan yang terbakar ini merupakan lahan warga yang rencananya direlokasikan tempat pemukiman warga yang tinggal di sekitaran bantaran sungai, namun saat ini masih belum terealisasi karena mereka masih bertahan ditempat yang lama. Kawasan ini juga sering didatangi oleh masyarakat yang ingin mencari ikan.

Menurut Osa Maliki, kesadaran masyarakat mempunyai peran penting agar tidak terjadi kebakaran hutan, apalagi saat ini telah memasuki musim kemarau panjang. Selain itu kondisi gambut yang ada di Desa Tumbang Nusa lumayan tebal yakni mencapai 12 meter sehingga proses pemadaman cukup memakan waktu berhari-hari.

Osa Maliki mengatakan, pada sebelumnya Karhutla sempat terjadi di Desa Tanjung Taruna, namun tidak melebar. Ada empat titik api yang ditemukan ditempat berbeda sehingga Karhutla yang terjadi di Desa Tumbang Nusa. Sementara untuk luasannya area yang terbakar juga belum bisa diketahui, namun pencegahan ini harus segera ditangani agar tidak melebar.

Lanjut dikatakan Osa Maliki, dalam penanganan pemadaman tim hingga mengerahkan helikopter water bombing sebagai tindak cepat karena ada faktor kendala dalam pemadaman akibat cuaca tiupan angin kencang. Selain itu juga sudah tidak berfungsinya lagi beberapa pompa sumur bor karena telah cukup lama tidak difungsikan semenjak terjadinya Karhutla di tahun 2015 silam.

Osa Maliki mengatakan, penanganan ini masih terus difokuskan, meskipun di Kabupaten Pulang Pisau terjadi Karhutla namun dalam penanganan yang utama BPBD Kabupaten Pulang Pisau lebih memprioritaskan penanganan di area Jalan Trans Kalimantan karena merupakan salah satu area yang dilalui masyarakat. Apalagi untuk Karhutla di Desa Tumbang Nusa yang dikhawatirkan bisa mengganggu jalur lintas penerbangan pesawat akibat asapnya.

Pada tindakan pemadaman ini, papar Osa Maliki, BPBD Pulang Pisau juga bekerjasama dengan tim terpadu dari Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), Manggala Agni, tim Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) dan pihak terkait lainnya.

Osa Maliki mengimbau, ada hal yang perlu diketahui oleh masyarakat, sering terjadinya Karhutla di Kabupaten Pulang Pisau karena saat ini telah memasuki kemarau panjang. Untuk itu masyarakat juga harus tetap waspada, seperti tidak sembarangan membuka lahan apalagi dengan cara membakar karena api kecil tidak menutup kemungkinan bisa menimbulkan bencana besar.

Osa Maliki menambahkan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kalimantan Tengah, puncak kemarau panjang hingga 10 November 2023. Saat ini bisa dipastikan telah terjadi El Nino sehingga dampak kekeringan untuk wilayah Kabupaten Pulang Pisau juga terus berlanjut meskipun ada hujan namun potensinya kecil. . (Penulis: ARIEF SUSENO/ Editor: DUDENK)