Kelapa sawit masih menjadi primadona bagi para petani di sejumlah daerah di Kabupaten Pulang Pisau. (FOTO TRANS HAPAKAT)

TRANS HAPAKAT – Syahri pria berusia 73 ┬ásalah satu ┬ápetani di Desa Kantan Dalam Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau (12/6/2022) mengaku turunnya harga jual buah sawit menjadi keluhan bagi para petani. Sampai saat ini harga jual dinilai masih tidak kunjung membaik, dan jauh dari yang diharapkan.

Dikatakan Syahri, sebagai petani dirinya tidak mengetahui pasti apakah turunnya harga buah sawit akibat adanya larangan ekspor oleh pemerintah dan saat ini telah dicabut kembali oleh pemerintah. Namun, para petani sawit sempat merasakan harga jual terendah Rp1.500,- perkilogram, bahkan berlanjut hingga menjadi Rp1.300,- perkilogram dari harga sebelumnya mencapai Rp3.300 perkilogram yang terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri lalu.

Menurutnya, penurunan harga itu tentu membuat para petani resah karena tidak sebanding dengan operasional pemeliharaan dengan kenaikan harga pupuk. Akibatnya, tidak sedikit dari para petani yang mengeluhkan kondisi ini.

Syahri mengungkapkan, harga pupuk sawit saat ini kisaran Rp195 ribu per 50 kilogram dari yang sebelumnya hanya Rp135 ribu. Kenaikan harga pupuk mulai terjadi di awal bulan Mei lalu.

Sebelum terjadinya penurunan harga jual buah sawit para petani bisa meraup hasil yang cukup lumayan. Dirinya berharap semoga harga jual sawit bisa kembali normal sehingga bisa menyesuaikan dengan harga mahalnya pupuk.

Setelah dicabutnya larangan ekspor crude palm oil (CPO) dan bahan bakunya sejak bulan Mei 2022 oleh Presiden, harga jual buah sawit di beberapa daerah tidak terkecuali Kabupaten Pulang Pisau masih belum membaik. (Penulis: ARIEF SUSENO/ Editor: DUDENK)